Jumat, 11 November 2011

BAIK DAN BURUKNYA IKLAN TV


Iklan adalah sebuah bentuk komunikasi yang digunakan untuk membujuk audiens (pemirsa, pembaca atau pendengar) untuk mengambil beberapa tindakan sehubungan dengan produk, ide, atau jasa. Iklan juga digunakan oleh sebuah perusahaan untuk mempromosikan, menginformasikan, mendidik dan memotivasi masyarakat tentang isu-isu non-komersial, barang-barang komersial dan layanan sebuah jasa. Iklan, non-komersial berguna sebagai alat pendidikan yang mampu menjangkau khalayak yang besar dan memotivasi. TV komersial umumnya dianggap format massal-pasar periklanan paling efektif. Karena masyarakat seluruh Indonesia sebagian besar memiliki televisi. Iklan juga sarana promosi Penjualan yang bertujuan ganda karena mereka digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang apa jenis pelanggan dan di mana mereka berada, dan untuk meningktkan apa yang menjadi tujuan perusahaan. Iklan ini memegang dampak yang besar dan berpengaruh pada pemirsa terutama yang masih muda. Sebagian besar iklan biasanya menyampaikan pesan mereka secara efektif hanya dalam beberapa detik. Efek dari iklan televisi tidak mungkin terlihat besar, efeknya terlalu halus. Iklan yang lebih efektif terjadi ketika program televisi menggunakan atau memasukkan ini sebagai bagian dari acara atau program.
Iklan selain berdampak positif terutama bagi perusahaan, namun Iklan juga akan berdampak negatif bagi konsumen. Tidak dapat dipungkiri jika masyarakat Indonesia adalah type konsumtif. Maka dengan adanya promosi produk suatu barang, maka secara tersirat seorang konsumen membeli produk tersebut tanpa memikirkan efek jangka panjang dan umur ekonomisnya. Kadang Iklan juga tidak memberikan konsep kata-kata yang bagus yang dapat diserap konsumen.

Rangkuman LAPORAN DAN USUL


LAPORAN
1.       Pengertian Laporan
Laporan adalah suatu cara komunikasi di mana penulis menyampaikan informasi kepada seseorang atau suatu badan karena maksud sering mengambil bentuk tertulis, maka dapat pula dikatakan bahwa laporan merupakan suatu macam dokumen yang menyampaikan informasi mengenai sebuah masalah yang telah atau tengah diselidiki, dalam bentuk fakta-fakta yang diarahkan kepada pemikiran dan tindakan yang akan diambil.
2.       Dasar-dasar Laporan
a.       Pemberi Laporan
Laporan melibatkan orang atau pihak yang memberi laporan. Pemberi laporan dapat berupa perorangan, sebuah panitia yang ditugaskan untuk maksud tertentu.
b.      Penerima Laporan
Penerima laporan adalah orang atau badan yang menugaskan, atau orang/badan yang dianggap perlu mendapatkan laporan itu.
c.       Tujuan Laporan
Tujuan sebuah laporan tergantung dari situasi yang ada antara pemberi laporan dan penerima laporan. Pada umumnya berkisar pada hal-hal berikut :
·         Untuk mengatasi masalah
·         Untuk mengambil suatu keputusan yang lebih efektif
·         Mengetahui kemajuan dan perkembangan suatu masalah
·         Untuk mengadakan pengawasan dari perbaikan
·         Untuk menemukan teknik-teknik baru
3.       Sifat Laporan
Sebuah laporan akan dianggap baik atau buruk tergantung dari keberhasilannya dalam memenuhi fungsinya yaitu mempengaruhi pembaca seperti yang diharapkan. Hasilnya berupa : perbaikan, perubahan, bantuan, perkembangan, penegasan sikap, dan pengambilan keputusan. Laporan hanya dapat dicapai apabila :
·         Laporan yang baik harus ditulis dalam bahasa yang baik dan jelas
·         Isi laporan harus diurutkan dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat masuk akal
·         Fakta-fakta yang disajikan pelapor harus dapat menimbulkan kepercayaan, terutama bila laporan itu dimaksudkan untuk mengambil suatu tindakan tertentu.
Laporan juga harus mengandung sifat-sifat berikut :
1.       Laporan itu harus mengandung imaginasi. Yaitu pelapor harus tahu secara tepat siapa yang akan menerima laporan itu.
2.       Laporan yang dibuat harus sempurna dan komplit, yang berarti tidak boleh ada hal-hal yang diabaikan bila hal-hal itu diperlukan utnuk memperkuat kesimpulan dalam laporan itu.
3.       Laporan juga harus disajikan secara menarik. Penulis laopran juga bukan sekedar menyampaikan sebuah laporan. Tetapi ia pun inginkan hasil dari laporannya itu.

4.       Macam-macam laporan
Laporan umum dibagi sesuai bentuk dan maksudnya :
a.       Laporan berbentuk Formulir Isian
Dalam menuliss sebuah laporan yang berbentuk formulir isian biasanya telah disiapkan blangko daftar isian yang diarahkan kepada tujuan yang akan dicapai. Laporan ini bersifat rutin dan seringkali berbentuk angka-angka.
b.      Laporan berbentuk Surat
Jika sebuah laporan tidak banyak mengandung tabel, angka atau sesuatu hal lain yang digolongkan dalam tabel dan angka, maka bentuk yang paling umum dipergunakan adalah laporan berbentuk surat. Laporan berbentuk surat dapat dipakai untuk menympaikan segala macam topik. Bentuk laporan ini bervariasi, dari bentuk sangat formal sampai ke bentuk sangat informal.
c.       Laporan berbentuk Memorandum
Laporan berbentuk memorandum digunakan untuk suatu laporan yang singkat dalam bagian-bagian suatu organisasi, antara atasan dan bawahan dalam suatu hubungan kerja.
d.      Laporan Perkembangan dan Laporan Keadaan
Laporan perkembangan (progress report) pada prinsipnya berbeda dengan laporan keadaan (status report). Bedanya adalah :
·         Laporan perkembangan adalah : suatu macam laporan yang bertujuan untuk menyampaikan perkembangan, perubahan, atau tahap aman yang sudah dicapai dalam usaha untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan.
·         Laporan keadaan : mengandung konotasi bahwa tujuan dari laporan itu adalah mengambarkan kondisi yang ada pada saat laporan itu dibuat.
e.      Lporan Berkala
Laporan ini dibuat dalam bentuk formulir-formulir isian, atau dalam bentuk memorandum.
f.        Laporan Laboratoris
Tujuan dari laporan ini adalah menyampaikan hasil dari percobaan atau kegiatan yang dilakukan dalam laboratoria. Laporan ini bukan hanya menyajikan hasil kegiatan di laboratoria, tetapi juga harus menerapkan masalah-masalah khusus bahkan kegiatan yang diinginkan. Pokok-pokok penting yang harus diperlihatkan dalam kerangka laboratoris :
1.       Halaman judul
2.       Objek atau tujuan
3.       Teori : menyangkut teori mana yang diterapkan
4.       Metode : yang dimaksud dengan metode di sini adalah prosedur-prosedur yang ditepuh
5.       Hasil-hail yang akan dicapai dalam percobaan ini dengan mempergunakan metode di atas
6.       Diskusi atas hasil yang telah dicapai dalam percobaan
7.       Kesimpulan
8.       Apendiks
9.       Data asli
g.       Laporan Formal dan semi Formal
Laporan Formal adalah laporan yang memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Nadanya bersifat impersonal dan materinya disajikan dalam suatu pola struktur. Ciri-ciri umum laporan formal adalah :
1.       Harus ada halaman judul
2.       Biasanya ada sebuah surat-penyerahan
3.       Walaupun tidak panjang, sebuah laporan formal selalu memliki sebuah daftar isi.
4.        Ada sebuah ikhtisar (kadang-kadang abstrak) mengawali laporan
5.       Ada bagian yang disebut Pendahuluan, sebagai suatu informasi awal bagi pembaca
6.       Bila ada Kesimpulan dan Saran (Rekomendasi) biasanya diberi  judul tersendiri
7.       Isi laporan yang terdiri dari judul-judul dengan tingkat yang berbeda-beda
8.       Nada yang dipergunakan adalah nada resmi, gayanya bersifat personal
9.       Kalau perlu laporaan formal disertai pula tabel-tabel dan angka-angka, baik yang terjalin dalam teks laporan, maupun dikumpulkan atau dilampirkan dalam satu bagian tersendiri
10.   Laporan formal biasanya didokumetasikan secara khusus.
Bila ada satu atau dua syarat di atas yang tidak terpenuhi maka laporan itu dinamakan laporan semi-formal. Sebaliknya jika laporan tidak memenuhi persyaratan-persyaratan diatas maka dinamakan non-formal. Dengan memperhitungkan pula nadanya yang bersifat impersonal dan bahasa yang standrad, maka laporan formal, laporan semi-formal dan laporan non-formal merupakan laporan yang bersifat resmi (formil). Bila laporan tersebut bersifat pribadi dan bentuknya mana suka sesuai dengan keinginan penulis maka laporan itu bersifat tak resmi atau laporan informil. Ciri laporan formal adalah : sampul, halaman judul, surat penyerahan, daftar isi, pendahuluan, isi laporan, kesimpulan, apendiks dan bibliografi.
5.       Struktur laporan Formal

A
Halaman Judul
Surat Penyerahan
Daftar Isi
Ikhtisar atau abstrak
Pendahuluan
Isi Laporan
Kesimpulan
Saran (Rekomendasi)
Apendiks
Bibliografi
B
Halaman Judul
Surat Penyerahan
Daftar Isi
Ikhtisar atau Abstrak
Kesimpulan
Saran (Rekomendasi)
Pendahulun
Isi Laporan
Apendiks
Bibliografi

Keterangan:
a.       Halaman Judul
Memuat pokok-pokok atau topik laporan.
b.      Surat penyerahan
Berfungsi sebagai Kata pengantar pada sebuah buku.
c.       Daftar Isi
Memuat rekapitulasi dari semua judul yang ada dalam laporan itu.
d.      Ikhtisar dan Abstrak
·         Abstrak adalah suatu bagian uraian yang sangat singkat, jarang lebih panjang dari enam atau delapan baris, bertujuan untuk menerangkan kepada pembaca-pembaca aspek-aspek mana yang tercakup dalam sebuah uraian tanpa berusaha mengatakan apa yang dibicarakan engenai aspek-aspek itu.
·         Ikhtisar adalah bagian dari tulisan yang menyampaikan suatu informasi yang penting dari sebuah laporan dalam bentuk yang singkat.
e.      Pendahuluan
Pendahuluan sebuah laporan atau unsur yang dianggap sebagai latar belakang dari masalah yang akan dilaporkan dapat dikemukakan beberapa hal berikut : tujuan laporan, mengapa laporan itu ditulis, siapa yang menyuruh sebuah laporan itu,siapa saja yang ditugaskan untuk menyelidiki masalah tersebut dan melaporkannya, perseorangan atau satuan tugas, siapa yang memimpin satuan tugas, wilayah-wilayah mana saja yang tercakup, kapan tuas itu mulai dilaksanakan dan kapan berakhir, dan di mana serta bagaiana penulis laporan mendapatkan informasi mengenai masalah tersebut.
f.        Isi laporan
Isi laporan menyangkut inti persoalan, dan segala sesuatu yang bertalian langsung dengan persoalan tersebut. Sebab itu isi laporan dapat meliputi : hasil pengamatan mengenai fakta-fakta yang dilaporkan, pencocok kewajibannya, semua masalah yang diperkirakan akan membantu atau menghambat pemecahan masalahnya, pembahasan dan hasil pembahasan mengenai pokok persoalan yang akan dilaporkan.
g.       Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan diturunkan dari fakta-fakta, dan lebih banyak mempersoalkan hubungan-hubungan logis, sebaliknya saran-saran merupakan langkah mana yang dapat diambil supaya masalah itu dapat diatasi sebaik-baiknya.
h.      Bagian Pelengkap
Bagian yang perlu dimasukkan untuk melengkapi laporan itu adalah Apendiks (lampiran-lampiran, termasuk Surat perintah atau Surat Tugas bagi orang yang membuat laporan itu, Foto-foto dan Peta) dan Bibliograafi bila laporan itu dikaitkan dengan analisa ilmiah yang mempergunakan bahan-bahan pustaka.
6.       Bahasa Sebuah Laporan
Bahasa yang dipergunakan dalam sebuah laporan formal haruslah bahasa yang baik, jelas dan teratur.
7.       Laporan Buku
Suatu macam laporan untuk kepentingan atau perkuliahan di Perguruan Tinggi disebut Laporan Buku. Laporan ini bertujuan utnuk mendorong mahasiswa membaca buku-buku yang diwajibkan, serta meningkatkan kemampuan mereka memahami isi buku-buku tersebut.
8.       Penutup
Apa saja yang menjadi pokok sebuah laporan, pada bagian terakhir selalu disertai penilaian tentang baik-buruknya, serta saran-saran untuk mengambil tindakan bila perlu.




USUL

1.       Pengertian Usul
Usul atau proposal adalah suatu saran atau permintaan kepada seseorang atau badan untuk mengerjakan atau melakukan suatu pekerjaan.
2.       Sifat dan Jenis Usul
Bila semua tulisan lain dibuat berdasarkan bahan-bahan yang sudah tersedia atau sesuatu yang sudah terjadi, sebaliknya usul dibuat berdasarkan sesuatu yang belum ada. Walaupun barang yang diusulkan itu belum ada, penulis usul harus merangkaikannya sedemikian rupa sehingga dapat menyakinkan penerima usul. Penerima usul harus betul-betul diyakinkan bahwa penulis usul, entah perseorangan ataupun suatu organisasi, akan sanggup melaksanakan pekerjaan yang direncanakan dan diusulkannya. Macam-macam usul : untuk penelitian, pengembangan, perencanaan dan pemasaran.
3.       Usul Non-Formal
Usul-usul yang bersifat non-formal bentuknya beraneka ragam, tergantung dari penulis, atau kesepakatan antara penulis dan penerima usul. Kadang usul non-formal disampaikan dalam bentuk memorandum atau surat.
Usul non-formal harus mengandung hal-hal berikut :
a.       Masalah
Masalah yang disampaikan dalam sebuah usul, haruslah dirumuskan dengan jelas. Peneliti harus mengadakan identifikasi masalah yang dihadapi dengan cermat, mengambarkan latar belakang atau sejarah persoalan yang dihadapi, serta menunukkan betapa pentingnya masalah itu dilaksanakan atau diselesaikan sekarang juga.
b.      Saran pemecahan
Saran-saran yang disampaikan untuk memecahkan masalah yang dihadapi, merupakan inti dan sasaran utama dari setiap usul. Penulis berusaha menampilkan jalan-jalan keluar yang dianggapnya paling baik untuk mengatasi atau menyelesaikan pekerjaan yang dihadapi.
c.       Permohonan
Untuk menutup uslnya, penulis menyampaikan permohonan untuk melaksanakan pekerjan yang khusus itu, atau bersedia menyampaikan informasi yang diperlukan untuk keluar dari masalah yang dihadapi itu. Perumusan yang tegas akan mempermudah penerima usul untuk memberikan pertimbangan dan dapat segera pula menjawab permohonan itu.
4.       Usul Formal
Usul formal adalah usul yang memenuhi persyaratan bentuk tertentu. Ada tiga bagian utama dalam usul formal : bagian pelengkap pendahuluan, isi usul, dan bagian pelengkap penutup.
4.1   Bagian Pelengkap Pendahuluan
a.       Surat pengantar atau memorandum pengantar
Surat ini sama fungsinya sama dengan penyerahan atau surat pengantar pada sebuah laporan. Surat pengantar sebuah usul antara lain berisi : alasan-alasan mengapa penulis menyampaikan usul itu dengan mengacu kepada surat, pertemuan atau iklan, yang menawarkan kepada umum untuk melaksanakan suatu pekerjaan tertentu.

b.      Sampul dan halaman judul
Pada sampul atau halaman judul dicantumkan identifikasi jenis tulisan yaitu usul, judul usul, nomor pengenal kalau ada, yang biasanya dihubungkan dengn nomor penawaran. Di bawahnya lagi dicantumkan tanggal penyerahan dan tanggal akhir penyelesaian tugas yang akan dikerjakan. Contoh :
USUL
Disampaikan kepada
DEPARTEMEN PERHUBUNGAN
REPUBLIK INDONESIA
Untuk
PEMBANGUNAN JALAN RAYA
TRANS SUMATRA
No. 1534/DPJ/Dep./U/78
Disusun oleh
PT GEGAP GEMPITA
Oktober 1987
c.       Ikhtisar atau abstrak
Ikhtisar atau abstrak menyampaikan inti sari dari masalah dan cara pemecahan yang disampaikan dalam usul tersebut.
d.      Daftar isi
Daftar isi memuat rekapitulasi dari semua judul utama dan judul bawahan yang terdapat dalam seluruh usul itu. Dengan demikian penerima usul dengan mudah dapat mencari bagian tertentu bila ia tertarik untuk melihat bagian yang bersangkutan.
e.      Penegasan permohonan
Penegasan mengenai permintaan dapat dimasukkan dalam ikhtisar. Tetapi bila usul yang disampaikan itu cukup panjang, lebih baik bagian ini diberikan tempat tersendiri.
4.2   Isi Usul
Isi usul memuat uraian yang terperinci dari pekerjaan atau tugas yang akan dilakukan. Masalah-masalah yang akan dikerjakan itu berbeda-beda sifatnya, di samping itu situasinya pun tidak sama bahkan pada pekerjaa-pekerjaan yang dianggap sejenis. Beberapa topik dibawah ini selalu akan dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam isis sebuah usul :
a.       Pembatan masalah
Dengan batasan yang diberikan pada awal usul itu, dapat diletakkan landasan pengertian yang sama antara kedua belah pihak. Dalam hal ini penulis harus memberi batasan pengertian itu dengan tujuan memperlihatkan kepada penerima usul bahwa ia mengetahui dengan tepat masalah itu.
b.      Latar belakang
Sejarah atau latar belakang masalah yang diuraikan perlu pula dikemukakan. Apa yang terjadi sekarang atau nanti, tidak dapat terlepas dari perkembangan atau sejarahnya pada masa lampau. Jalan keluar yang disarankan hanya akan efektif kalau dipertimbangkan pula semua latar belakang dan sejarahnya.

c.       Luas-lingkup
Membatasi luas-lingkup persoalan yang dihadapi akan membawa manfaat sekurang-kurangnya dalam dua hal. Yaitu :
·         Pertama, penulis usul akan dapat melihat duduk persoalannya yang jelas, sehingga dapat menyampaikan deskripsi yang konkrit dan jelas.
·         Bila penulis usul tidak memberi batasan-batasan itu, maka penerima usul akan melakukan tuntutan-tuntutan tertentu di kemudian hari.
d.      Metodologi
Adalah kerangka teoritis yang dipergunakan oleh penulis untuk menganalisa, mengerjakan atau mengatasi masalah yang dihadapi. Melalui metode tersebut, penerima usul dapat menilai apakah dapat diharapkan hasil yang memuaskan atau tidak pada tempat, atau kondisi tertentu. Semakin komprehensif metodologi yang diusulkan untuk mengerjakan masalah yang dihadapi itu, semakin akan menyakinkan penerima usul.
e.      Fasilitas
Penulis usul perlu menggambarkan pula bermacam-macam fasiltas yang dimilikinya untuk lebih menyakinkan lagi penerima usul bahwa tawaran mereka benar-benar serius dan mereka pasti sanggup mengerjakannya dengan baik.
f.        Personalia
Penulis usul harus menyertakan pula daftar susunan personalia, baik yang bekerja penuh maupun tidak, dengan gelar dan keahlian serta pengalamannya masing-masing.
g.       Keuntungan dan kerugian
Akan lebih menyakinkan lagi penerima usul, bila dikemukakan juga semua keuntungan yang akan diperoleh dari pekerjaan itu. Hal ini bukan suatu yang berlebihan, tetapi untuk menyakinkan penerima usul bahwa biaya yang akan dikeluarkan tidak akan sia-sia dengan hasil yang akan diperoleh.
h.      Lama waktu
Dalam usul juga harus dijelaskan lama waktu pekerjaan itu akan diselesaikan. Bila terdiri dari beberapa tahap, maka tahap-tahap itu perlu diberikan dengan perincian waktu penyelesaian masing-masing.
i.        Biaya
Perincian biaya harus benar-benar digarap dalam usul sehingga dapat menyakinkan penerima usul.
j.        Laporan
Mengikuti tahap pelaksanaan dengan cermat, penulis usul juga memperkirakan  tahap-tahap pelaporan kemajuan pekerjaan yang akan dikerjakannya itu. Dan laporan menurut tahap kemajuan yang dicapai, akapn akan diserahkn laporan terakhir sesudah pekerjaan itu dirampungkan.
4.3   bagian pelengkap penutup
bagian ini sama dengan laporan dan tulisan formal yang lain, berisi bahkan kepustakaan, lampiran-lampiran gambar, tabel dan sebagainya yang dipergunakan dalam usul itu.

 SUMBER :
Gorys Keraf.1994. komposisi. NTT. Penerbit: Nusa Indah

Jumat, 28 Oktober 2011

KRISIS YUNANI


Penyebab : Yunani adalah sebuah negara kecil di Zona Euro yang berpenduduk sekitar 11 juta jiwa, dengan pendapatan perkapita sekitar $22.000 AS. Dalam keanggotaan Euro Union, Yunani hanyalah sebuah negara kecil yang menyumbangkan sekitar2,6 dari keseluruhan GDP di zona euro, namun mengapa krisis yang melanda yunani ini begitu ditakuti oleh negara lain khususnya negara-negara yang berada di zona euro. Jawabannya tidak lain adalah karena Yunani adalah salah satu anggota Euro Union yang menggunakan mata uang Euro sehingga ketika salah satu negara anggotanya mengalami krisis dapat diperkirakan negara-negara lain khususnya yang menggunakan mata uang Euro akan terkena efek dari krisis ini secara langsung sejalan dengan Domino effect Theory yang sering digunakan oleh banyak ekonom untuk menggambarkan penyebaran krisis ekonomi di seluruh dunia.
Dilihat dari pertumbuhan ekonomi Yunani, Yunani ternyata juga mengalami defisit dalam perdagangannya, hal ini terlihat dari jumlah barang impor yang lebih besar dari ekspornya, impor Yunani mencapai $60 miliar sedangkan ekspornya hanya $1,9 miliar, hal ini tentu akan mengurangi cadangan devisa Yunani, selain itu, hutang Yunani yang menumpuk dan tidak bisa diperpanjang lagi merupakan salah satu penyebab krisis parah yang melanda Yunani sejak akhir tahun 2009, beberapa sumber menyebutkan bahwa hutang Yunani telah mencapai 300 milyar euro, hal ini diperparah sejak pelaksanaan olimpiade 2004, Yunani yang penuh legenda cukup menghentak mata dunia ketika tahun 2004 menjadi penyelenggara olimpiade, semua mata terpana akan kecanggihan acara pembukaan maupun penutupan olimpiade begitu pula dengan kecanggihan arena-arena perlombaan. Ternyata kecanggihan itu mahal harganya. Kecanggihan olimpiade 6 tahun lalu, menjadi salah satu penyebab dari sekian banyak penyebab "kebangkrutan" Yunani. Dan dengan adanya keputusan pemerintah yang telah mengeluarkan kebijakan untuk melakukan sinering  serta Keadaan ini diperparah pula oleh upaya pemeberantasan korupsi yang tidak maksimal.
Pendapat : Menurut saya, Dalam keanggotaaan Euro Union (UE), Yunani sebenarnya memiliki potensi investasi yang cukup menarik bagi para investor, namun dengan  krisis yang melanda daratan Eropa belakangan ini telah menimbulkan ketidakpercayaan para investor terhadap sektor keuangan di Eropa khususnya Yunani dan hal ini tentu akan memperparah krisis di Yunani dan jika krisis ini tidak ditanggulangi maka Yunani terancam benar-benar bangkrut.dan mengakibatkan  keadaan ekonomi Yunani benar-benar lumpuh, hal ini bisa dilihat dari berbagai aksi demo dan mogok masal yang dilakukan oleh ratusan ribu pekerja dan pegawai pemerintah yang telah mengakibatkan berbagai sektor di Yunani lumpuh total, puncaknya aksi demo dan mogok masal. Aksi yang dilakukan oleh masyarakat Yunani ini adalah sebagai bentuk perlawanan terhadap keputusan pemerintah yang telah mengeluarkan kebijakan untuk melakukan sinering terhadap gaji pegawai negeri, menaikkan beberapa jenis pajak, menunda dana pensiun, dan memangkas anggaran militer sebagai upaya meningkatkan cadangandevisanegaranya.
Yunani bukanlah negara besar seperti Jerman, Yunani juga bukanlah negara dengan sistem birokrasi yang baik seperti Inggris dan Belanda, Yunani hanyalah sebuah negara dengan corruption perceptions index berada pada peringkat 71 dari 180 negara*1.Keadaan ini diperparah pula oleh upaya pemeberantasan korupsi yang tidak maksimal. Bukan hal yang berlebihan untuk mengatakan bahwa sumber krisis Yunani adalah “fakelaki” artinya amplop kecil. Maka dari itu seharusnya pemerintah bertindak tegas dalam hal korupsi ini, karena akan mengakibatkan masalah menjadi berlarut-larut. Serta harus di pantau kembali kondisi keuangan, pengeluaran harus di sesuaikan dengan pemasukan. Demikian menurut pendapat saya, ujung tombak dari masalah ini adalah pemerintahan yang tegas dan bijak dalam mengambil keputusan

MACAM-MACAM PENALARAN


PENALARAN
I.I Pengertian Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Penalaran merupakan proses berpikir menurut alur kerangka berpikir tertentu, merupakan kunci pembuka gerbang ke arah kemajuan seperti apa yang dicapai oleh manusia sekarang ini.
I.I Syarat – syarat Kebenaran dalam Penalaran
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
a. Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
b. Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.
II. RUMUSAN MASALAH
Penalaran memiliki dua jenis metode yang sering kita temukan, yakni metode Induktif dan metode Deduktif.
1. Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut induksi. Penalaran induktif mungkin merupakan generalisasi, analogi, atau hubungan sebab akibat. Generalisasi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu mengenai sernua atau sebagian dari gejala serupa itu. Di dalam analogi kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala ditarik berdasarkan pengamatan terhadap sejurnlah gejala khusus yang bersamaan. Hubungan sebab akibat ialah hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat-sebab, dan akibat-akibat.
2. Penalaran Deduktif
Deduksi dimulai dengan suatu premis yaitu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Kesimpulannya merupakan implikasi pernyataan dasar itu. Artinya apa yang dikemukakan di dalam kesimpulan secara tersirat telah ada di dalam pernyataan itu.
Jadi sebenarnya proses deduksi tidak menghasilkan suatu pengetahuan yang baru, melainkan pernyataan kesimpulan yang konsisten dengan pernyataan dasarnya.

III. PEMBAHASAN
Pembahasan penalaran Induktif dan penalaran Deduktif sebagai berikut :
1. Penalaran Induktif
Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.
Di dalam penalaran induktif terdapat tiga bentuk penalaran induktif, yaitu generalisasi, analogi dan hubungan kausal. Jenis-jenis penalaran induktif antara lain :
a. Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
Contohnya :
1. Chelsea Olivia adalah bintang sinetron, dan ia berparas cantik.
2. Nia Ramadhani adalah bintang sinetron, dan ia berparas cantik.
Generalisasi: Semua bintang sinetron berparas cantik.
Pernyataan “semua bintang sinetron berparas cantik” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya. Contoh kesalahannya: Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.
Macam-macam generalisasi :
a.1 Generalisasi sempurna adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki. Contoh: Sensus penduduk.
a.2 Generalisasi tidak sempurna adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki. Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantaloon. Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna. Generalisasi yang tidak sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar. Prosedur pengujian atas generalisasi tersebut adalah:
- Jumlah sampel yang diteliti terwakili.
- Sampel harus bervariasi.
- Mempertimbangkan hal-hal yang menyimpang dari fenomena umum/ tidak umum.
b. Analogi
Analogi merupakan cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama. Analogi mempunyai 4 fungsi, antara lain :
- Membandingkan beberapa orang yang memiliki sifat kesamaan
- Meramalkan kesaman
- Menyingkapkan kekeliruan
- klasifikasi
Contoh analogi :
Demikian pula dengan manusia yang tidak berilmu dan tidak berperasaan, ia akan sombong dan garang. Oleh karena itu, kita sebagai manusia apabila diberi kepandaian dan kelebihan, bersikaplah seperti padi yang selalu merunduk.
c. Hubungan Kausal
Penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Macam hubungan kausal :
1. Sebab- akibat : Hujan turun di daerah itu mengakibatkan timbulnya banjir.
2. Akibat – Sebab : Andika tidak lulus dalam ujian kali ini disebabkan dia tidak belajar dengan baik.
3. Akibat – Akibat : Ibu mendapatkan jalanan di depan rumah becek, sehingga ibu beranggapan jemuran di rumah basah.
Contoh Kausal : Kemarau tahun ini cukup panjang. Sebelumnya, pohon-pohon di hutan sebagi penyerap air banyak yang ditebang. Di samping itu, irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan pertaniannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan panen di desa ini selalu gagal.
2. Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.
Contoh : Sebuah sistem generalisasi.
Laptop adalah barang eletronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi, DVD Player adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi,
Generalisasi : semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk beroperasi.
Deduksi ialah proses pemikiran yang berpijak pada pengetahuan yang lebih umum untuk menyimpulkan pengetahuan yang lebih khusus. Bentuk standar dari penalaran deduktif adalah silogisme, yaitu proses penalaran di mana dari dua proposisi (sebagai premis) ditarik suatu proposisi baru (berupa konklusi)
Ada dua bentuk silogisme dalam penalaran Deduktif, yakni :
a. Silogisme kategoris: terdiri dari proposisi-proposisi kategoris.
b. Silogisme hipotesis: salah satu proposisinya berupa proposisi hipotesis.
Misalnya:
Premis 1 : Bila hujan, maka jalanan basah
Premis 2 : Sekarang hujan
Konklusi : Maka jalanan basah
Bandingkan dengan jalan pikiran berikut:
Premis 1 : Bila hujan, maka jalanan basah
Premis 2 : Sekarang jalanan basah
Konklusi : Maka hujan.
Bentuk Silogisme Menyimpang
Dalam praktek penalaran tidak semua silogisme menggunakan bentuk standar, bahkan lebih banyak menggunakan bentuk yang menyimpang. Bentuk penyimpangan ini ada bermacam-macam. Dalam logika, bentuk-bentuk menyimpang itu harus dikembalikan dalam bentuk standar.
Contoh : “Mereka yang akan dipecat semuanya adalah orang yang bekerja tidak disiplin. Kamu kan bekerja penuh disiplin. Tak usah takut akan dipecat”.
Bentuk standar :“Semua orang yang bekerja disiplin bukanlah orang yang akan dipecat. Kamu adalah orang yang bekerja disiplin.Kamu bukanlah orang yang akan dipecat”.


V. DAFTAR PUSRAKA
www.penalaran-unm.org
/id.wikipedia.org

http://nopi-dayat.blogspot.com/2010/03/penalaran-deduktif.html
http://njiee.blogspot.com/2011/02/penalaran-induktif.html


Nama: SRI PRIHATIN
Npm : 20209433                
Kelas : 3EB01
Tugas: Softskill Bahasa Indonesia